Pamit – Hujan Pun …

Tanpa kita sadari setiap harinya kita sudah memutuskan ratusan bahkan ribuan keputusan, seperti memutuskan untuk makan apa hari ini, memakai baju apa hari ini, bahkan memakai sepatu kanan atau kiri terlebih dahulu. Kini dengan kehadiranmu membuat bebanku bertambah beratus bahkan beribu keputusan yang harus aku putuskan.

“Kopi atau susu?”
“Kopi”
“Kenapa tidak susu?”
“Karena aku ingin”

Secara tidak sadar aku sudah memutuskan satu keputusan, mungkin setelah ini aku harus memutuskan hal lainnya.

“Nih ben, kopi untukmu.”
“Thanks ra”
“Kamu kenapa ben? kusut sekali wajahmu hari ini”
“Jadi gini ra, aku harus pamit ke Jogja untuk persiapan kuliahku”
“Oh gitu”

Nampak raut kekecawaan dari Ara ia tidak menyangka bahwa hari ini akan tiba, sebenarnya bahasan kepindahan ini sudah lama dibahas namun ia tidak menyangka bahwa akan secepat ini datangnya. Hanya jawaban singkat yang ia katakan, ia pun kembali ke tempat kerjanya menjadi seorang barista. Kuakui aku mulai suka kopi karena racingan dari Ara, entah sihir apa yang membuatku sangat menyukai kopi dan tertarik untuk mempelajarinya.

“Kamu ga pulang ben? Sudah hampir tutup loh”
“Tidak ra, aku menunggumu”

Tidak ada jawaban, Ara pun kembali membantu temannya untuk menutup kafe ini.

“Ah selesaiiiii”
“Selesai apanya ra?”
“Kerjanya”
“Oh aku kira ..”
“Baik-baik ya kamu disana ben”

Aku mengantar Ara pulang karena kebetulan rumah kita searah. Tidak banyak percakapan yang terjadi, masing-masing dari kita saling menikmati detik-detik terakhir seperti ini. Sangat berat untuk beranjak pergi dari kota ini, kota hujan kota dengan berjuta kenangan.

“Ara, hujan nih mau neduh dulu atau lanjut?”
“Lanjut saja ya? Sepertinya hujannya akan lama..”
“Baiklah”

Hujan pun turun sangat deras dan kami pun menerjang hujan dengan kecepatan 30-40km perjam, tanpa sadar aku teringat ketika Ara harus melepaskan kepergian ayahnya karena kecelakaan akibat kelalayan pekerjaan katanya, tapi sampai sekarang Ara-pun tidak bisa menerima kenyataan itu ia sangat tahu betul bagaimana dan seperti apa Ayahnya yang sangat teliti dalam bekerja maka tidak akan mungkin bahwa ia harus kehilangan Ayahnya.

“Ben, kamu tahu apa yang lebih sedih dari kehilangan?”
“Apa ra?”
“Kenyataan”

Sampai detik ini aku pun masih belum memahami apa maksud dari perkataan Ara tersebut, apakah kamu tahu? kalau tahu mungkin kamu bisa beri tahu aku. Aku ingin bertanya tentang hal itu, namun sampai detik ini pun aku ragu aku tidak ingin ia teringat dimana hari ia harus melepas kepergian ayahnya dan kini ia harus melepas kepergianku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.