Momentum Untuk Berlari …

Akhir-akhir ini wawasanku terbuka dengan mengikuti kanal youtube beberapa tokoh inspiratif, seperti kanal youtubenya Bossman Mardigu, Gita Wirjawan, Helmy Yahya ada banyak insight baru yang didapatkan tentang hidup, bernegara, perkembangan jaman.

Disaat pandemi seperti ini, hampir seluruh negara terkena dampaknya. Bahkan pemerintah Indonesia pun menetapkan Status Darurat Covid-19. Yang menarik adalah seluruh negara sedang terisolasi, bisa dikatakan ter de-globalisasi. Dimana segala bentuk transaksi baik itu import eksport terganggu, banyak negara yang fokus dengan negaranya masing-masing untuk dapat survive dari krisis ekonomi karena Covid-19 ini sangat berpengaruh dalam penggerakan roda ekonomi.

“Di setiap krisis ada peluang. Krisis ini bahasa mandarinnya weichi, di mana wei artinya berbahaya dan chi adalah peluang. Ini menarik bahwa meskipun ada krisis kesehatan dan krisis ekonomi, tentunya juga ada peluang-peluang.”

Salah satunya adalah peluang bangsa Indonesia dalam memperbaiki tatanan negara dan ekonominya. Sudah saatnya kita untuk Berdikari, Berdiri Diatas Kaki kita Sendiri. Disaat seluruh dunia menutup dirinya (lock down) kita tidak dapat bergantung pada barang import dari negara lain.

Lantas bagaimana caranya?

Old system doesn’t work.

Ini adalah kali pertama saya mendengar istilah Modern Money Theory (MMT) yang dipopulerkan oleh profesor Michael Hudson. Selain Hudson, juga ada Stephane Kelton, Warrer Mosler yang menjadi pencetus new economic model.

Michael Hudson (lahir 14 Maret 1939) adalah seorang ekonom Amerika, seorang Profesor Ekonomi di Universitas Missouri-Kansas City dan seorang peneliti di Levy Economics Institute di Bard College, mantan analis Wall Street, konsultan politik, komentator dan jurnalis. Dia adalah kontributor The Hudson Report, podcast berita ekonomi dan keuangan mingguan yang diproduksi oleh Left Out.

Modern Monetary Theory (MMT) ini kemudian diadopsi oleh China sejak tahun 1990. Dalam Modern Monetary Theory menggunakan sebagai underlying dari printing money atau pencetakan uang tanpa perlu didasarkan atas cadangan emas.

Ini adalah alasan mengapa China dapat berdampingan dengan Amerika dipuncak, karena menerapkan teori ini. Dalam rentan waktu yang singkat China dapat melesat di puncak, bahkan di masa pandemi seperti ini pun dunia bisa melihat bagaimana China dapat melakukan Recovery begitu sangat cepat padahal kita tahu China merupakan asal muasal virus Covid-19.

China menetapkan 2 mata uang yang digunakan di dalam dan di luar negeri, Di luar negeri memiliki underlaying dollar emas sedangkan di dalam negeri mereka mencetak uang based on project sebagai underlayingnya.

Bayangkan ketika kita dapat menggunakan momentum ini untuk dapat “berlari” dengan meniru China dalam mengimplementasi sistem Modern Monetary Theory (MMT) dengan menetapkan uang IDR rupiah yang digunakan sebagai alat tukar resmi negara dengan luar negeri, dan memproduksi uang banyak uang yang hanya dapat digunakan di dalam negeri dengan menggunakan project sebagai underlayingnya, tidak akan ada yang namanya Inflasi. Dengan catatan projectnya di sektor yang produktif dan menghasilkan return dalam rentan waktu kemudian setelah kita dapatkan uangnya kita bakar karena terjadinya inflasi itu dikarenakan jumlah uang yang beredar terlalu banyak.

Ini adalah tulisan pertama dalam series #IndonesiaEmas, kelak kita yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan tulisan ini yang akan menjadi bekal kita untuk dapat bersaing dengan dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.