Kok bisa ? – Hujan Pun..

Seandainya seluruh manusia tahu, bahwa hal yang membuatnya ragu tidak akan pernah mencapai titik temu. Entah berapa banyak peluang yang dilewatkan, entah berapa banyak kesempatan yang disia-siakan. Penyesalan selalu hadir mengikuti mereka yang melangkah ragu.

“Ben..”
“Kamu dimana ben?”

Suara langkah kaki pun kian mendekat, yang kurasakan kini seluruh tubuhku penuh dengan luka. Dengan langkah goyah dan nafas yang terengah-engah, membuatku semakin ketakutan.

“Aku mohon, aku tidak ingin membocorkan rahasia apapun.”
“Aku hanya ingin hidup, bebaskan aku!”

Tidak ada balasan, aku pun berjalan menuju arah buntu tidak ada kesempatan untuk selamat dari sini yang aku bisa lakukan hanyalah teriak.

“AAaaaaaaaa”
“Ra kamu kenapa? Mimpi apa kamu tadi?”
Aku lihat wajahnya ketakutan hingga tak sadar menitihkan air mata dengan sedikit berteriak sehingga membuatku panik.
“Ini raa minum dulu”
“Tarik nafas perlahan raaa lalu hembuskan”
“Lakukan itu berulang-ulang raa”
“Syukurlah ternyata itu hanya mimpi ben”
“Ben, di dunia ini aku ga punya siapa-siapa kecuali kamu ben.”
“Aku mohon jangan tinggalkan aku ben, aku takut sendiri. Jaga aku ben, aku mohon”
Aku mengusap air matanya dan mencoba menenangkannya
“Tenang ra, aku akan selalu berusaha untuk jadi pelindungmu”
“Ben”
“Ara”
“Ben”
“Ara”
“BEN SAKIT KAKI KAMU NGINJEK KAKIKU!!!”
“hehehe maaf raa gak sengaja”

Ara adalah wanita langka yang wajib dilestarikan, mungkin dia satu-satunya spesies manusia yang membuat orang bingung mengapa ada wujud harimau berparas bidadari. Ara memiliki tingkat kecerdasan diatas rata-rata, jika dibandingkan denganku sudah jelas aku kalah jauh dengannya. Namun saya ia harus mengurungkan niatnya untuk melanjutkan pendidikan semenjak ayahnya meninggal, ia bilang ada sesuatu hal yang harus dibuktikan. Ada kenyataan yang dibuat-buat, ada kejanggalan yang belum bisa ia terima, aku pun bingung bagaimana bisa ia dapat menyimpulkan seperti itu. Entahlah, dari sekian banyak orang yang ketemui dia-lah yang sangat sulit dimengerti.

Tidak terasa setengah perjalanan berlalu, entah mengapa waktu terasa lebih cepat jika ada Ara disampingku.

“Ra”
“ya ben?”
“kenapa kamu nekat?”
“Hah? aku nekat?”
“Iya”
“Hahaha kamu ga tahu ben? Aku tuh ga nekat, semua itu sudah aku perhitungkan.”
“Serius ra?”
“Iya, tahu pemuda yang ada dihadapan kita?”
ara menunjuk pemuda yang tadi berbicara denganku
“Iya tahu, dia …”
“Dia bekerja disatu tempat kerja ayahku dulu kan?”
“What the … bagaimana kamu bisa tahu ra?”
“Rahasia wleee”

Dia pun pergi menuju arah toilet sambil menjulurkan lidah seraya tertawa mengejekku.
Lagi-lagi aku dibuatnya terdiam, bingung dan pusing tujuh kepayang.

Melangkahlah tanpa ragu
maka semesta akan membantu
– Ara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.